In fact, the practice of intolerance does not only come from people who are unfamiliar with the meaning of diversity

Mubindah.id – On December 5, I and two colleagues who are also academics and activists received an invitation from the West Sumatra Ahmadiyah Congregation. Namely to attend the grand event of the National Jalsa Salana of the Ahmadiyah Congregation in Manislor, Kuningan, West Java. We and our group departed from Padang via air to Jakarta. From Jakarta we had to travel overland for approximately seven hours to Manislor village, Kuningan, West Java. Where the Jalsa is held. Attending the Jalsa Salana, this is the second time that Ahmadi friends have personally given me the opportunity. Namely, to be able to take a closer look at the traditions that are their habits in carrying out their religious beliefs. Previously, in 2023 I also had the opportunity to attend. Even at that time he gave a little welcome as a young person who was also involved in peace issues in West Sumatra. Even at that time, the Jalsa Salana was still at the Sumatra and surrounding levels
Annual Official Meeting of the Ahmadiyya Muslim Community Jalsa Salana is an annual official meeting of the Ahmadiyah Muslim Community which was initiated by Mirza Ghulam Ahmad as the founder of Ahmadiyah. Jalsa Salana contains spiritual activities, such as religious lectures and gatherings of congregants who attend from all over Indonesia.
This activity is planned to last for three days in Manislor village, Kuningan, West Java. The Jalsa Salana will initially be opened on Friday after Friday to Sunday services, with an estimated 15,000 Ahmadiyah congregation participants from all over Indonesia. Both on the island of Java and outside Java. They had prepared the Jalsa activities very carefully in advance. Starting from preparing food for three days for the participants, where the participants lived, they were warmly welcomed by the community around the location. They are ready with their respective house numbers to become accommodation. Because the Ahmadiyya Community believes that the house where guests come will receive blessings from God. However, H-1 before the Jalsa activities started, the local government together with several individuals who claimed to be security and religious parties issued a letter prohibiting the holding of the Jalsa. Namely under the pretext of security and goodness. Until the morning all access to enter the Jalsa location, the authorities boycotted it, without the slightest gap. Access to and from the Jalsa location has completely stopped. There is no way for outsiders to enter the Manislor village area
Event Cancellation I and two friends who were increasingly curious tried to find ways to get us into that location. But again we really weren’t given access to enter. Unless you have to argue with the authorities. Then in the afternoon we got access to visit the Jalsa location, when the congregation and their committee started to dismantle the tents due to pressure from the authorities and non-Ahmadi residents around the location. Where they should use it for the opening of the Jalsa. Honestly, I witnessed the incident directly at the location. I felt devastated and shocked to see the treatment that my Ahmadiyah friends received at that time. Watching the Jalsa committee members who were so disappointed, crying, lethargic, but still steadfast in trying to accept the cancellation. Participants who came from outside Java had to turn around in their vehicles which the participants had rented in advance in a joint venture. Not only that, many participants were also stranded at various train stations, due to insufficient finances to rent accommodation. The congregation who were staying in hotels in the Kuningan area had to move because the hotel did not accept them when they found out that they were Ahmadiyah. This is not a financial problem that they have spent, but this is a psychological problem for them as humans. Apart from that, our humanity is in this country which is said to be diverse.
Islam does not teach violence Some of the individuals who took part in this rejection included those wearing clothes bearing the inscriptions of certain religious groups. They argue that in the name of religion they carry out violence against other groups. Then which religion do they follow, because Islam itself never calls for hatred, let alone committing violence against other people, whatever the reason. In fact, Islam still teaches good ways to treat people, even those who are not religious. As a Muslim who witnessed this incident, it was truly sad to see individuals acting in the name of Islam criticizing the worship of other Muslims. Even spreading narratives that corner one party. Without opening a space for discussion with each other to understand other people's beliefs, this will not only give rise to unwarranted prejudices. Apart from the various pros and cons regarding several interpretations of the Ahmadiyah Congregation on certain issues. We truly condemn any violence in any form, against anyone.
Intolerant practices still occur As citizens of Indonesia, which is full of diversity, this incident really makes the tolerance that we think of in Indonesia not be good. Moreover, the absence of the state in this incident makes us increasingly question the democracy of this country. The government and authorities should provide rights, security, freedom and protection to every citizen, but apparently they are not present to provide justice. In fact, the practice of intolerance does not only come from people who are unfamiliar with the meaning of diversity. But also from a country that still fails to show all of that to every citizen. Hopefully this incident will be our collective homework, that we cannot just ignore intolerant practices. Let’s together take a role in maintaining this diversity, so that it remains, at least one day before the world ends, to borrow Buya Syafii Maarif’s term.
source https://mubadalah.id/larangan-jalsah-salanah-jemaat-ahmadiyah-di-manakah-negara/
(google translate being used)…
Larangan Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah, di Manakah Negara?
Nyatanya, praktik intoleransi tak hanya datang dari masyarakat yang awam akan makna keberagaman
in Personal

Jemaat Ahmadiyah
718
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp
Mubadalah.id – Pada 5 Desember lalu, saya bersama dua kolega yang juga merupakan seorang akademisi dan aktivis mendapatkan undangan dari Jemaat Ahmadiyah Sumatera Barat. Yakni untuk menghadiri perhelatan akbar Jalsah Salanah Nasional Jemaat Ahmadiyah di Manislor, Kuningan Jawa Barat.
Kami bersama rombongan berangkat dari Padang via udara hingga Jakarta. Dari Jakarta kami harus menempuh perjalanan darat selama lebih kurang tujuh jam menuju kampung Manislor, Kuningan, Jawa Barat. Di mana Jalsah tersebut dilaksanakan.
Menghadiri Jalsah Salanah, ini merupakan kali kedua bagi saya secara pribadi diberikan kesempatan oleh teman-teman Ahmadi. Yakni untuk bisa melihat lebih dekat tradisi-tradisi yang menjadi kebiasaan mereka dalam menjalankan sebuah keyakinan dalam beragama.
Di mana sebelumnya, pada tahun 2023 saya juga mendapatkan kesempatan untuk menghadiri. Bahkan saat itu memberikan sedikit sambutan sebagai anak muda yang juga bergerak di isu-isu perdamaian di Sumatra Barat. Meskipun kala itu, Jalsah Salanahnya masih dalam tingkat Sumatera dan sekitarnya.
Pertemuan Resmi Tahunan Jemaat Muslim Ahmadiyah
Jalsah Salanah merupakan pertemuan resmi tahunan Jemaat Muslim Ahmadiyah yang diprakarsai oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri Ahmadiyah. Jalsah Salanah berisikan kegiatan-kegiatan rohani, seperti ceramah keagamaan dan silaturahmi para Jemaatnya yang hadir dari seluruh Indonesia.
Baca Juga:
Mewujudkan Perdamaian Menjadi Bagian dari Norma Islam
“Pembubaran Jalsah Salanah JAI Manis Lor”: Bagaimana Sikap Toleran yang Sesungguhnya?
Pentingnya Toleransi dalam Dakwah Islam: Refleksi Kasus Gus Miftah
Melihat Sisi Perdamaian antara Mubaligh dan Bapak Penjual Es Teh
Kegiatan ini rencananya berlangsung selama tiga hari di kampung Manislor, Kuningan, Jawa Barat. Jalsah Salanah pada awalnya akan dibuka pada Jumat setelah ibadah Jumat hingga Minggu, dengan perkiraan peserta Jemaat Ahmadiyah yang hadir dari seluruh Indonesia adalah 15. 000 orang. Baik di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa.
Kegiatan Jalsah yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari dengan begitu matang. Mulai dari persiapan konsumsi selama tiga hari untuk para peserta, tempat tinggal para peserta yang disambut begitu hangat oleh masyarakat di sekitar lokasi. Mereka siap dengan nomor rumah masing-masing untuk menjadi tempat penginapan. Karena para Jemaat Ahmadiyah percaya bahwa rumah yang tamu datangi akan mendapatkan berkat dari Tuhan.
Namun, H-1 sebelum kegiatan Jalsah mulai, pemerintah setempat bersama beberapa oknum yang menyatakan diri sebagai pihak keamanan dan keagamaan mengeluarkan surat pelarangan untuk menggelar Jalsah tersebut. Yakni dengan dalih demi keamanan dan kebaikan.
Hingga pada pagi hari semua akses untuk memasuki lokasi Jalsah tersebut para aparat memboikotnya, tanpa celah sedikitpun. Akses keluar masuk lokasi Jalsah tersebut benar-benar berhenti secara total. Tidak ada celah bagi orang-orang luar memasuki daerah kampung Manislor.
Pembatalan Acara
Saya dengan dua orang teman yang semakin penasaran mencoba terus mencari akal agar kami bisa masuk ke lokasi tersebut. Tapi lagi-lagi kami benar-benar tidak diberi akses untuk masuk. Kecuali harus bersitegang dengan para aparat tersebut.
Lantas di sore hari kami mendapatkan akses untuk bisa berkunjung ke lokasi Jalsah tersebut, di saat para Jemaat dan panitianya mulai membongkar tenda-tenda akibat tekanan dari para aparat dan warga non Ahmadi yang ada di sekitar lokasi. Di mana semestinya mereka gunakan untuk pembukaan Jalsah.
Jujur, saya yang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung di lokasi. Saya merasa terpukul dan tertampar melihat perlakuan-perlakuan yang teman-teman Ahmadiyah terima saat itu. Menyaksikan para panitia Jalsah yang begitu kecewa, menangis, lesu, namun tetap tegar mencoba menerima pembatalan tersebut. Para peserta yang berdatangan dari luar pulau Jawa harus memutar arah kendaraan mereka yang sudah peserta sewa jauh-jauh hari dengan cara patungan.
Tak hanya itu, banyak juga para peserta yang terlantar di berbagai stasiun kereta api, akibat keuangan yang tidak memadai untuk menyewa penginapan. Para Jemaat yang menginap di hotel-hotel di daerah Kuningan pun harus berpindah lokasi karena pihak hotel ridak menerima ketika mengetahui bahwa mereka adalah orang Ahmadiyah. Ini bukan perihal finansial yang sudah mereka habiskan, tapi ini persoalan psikologis mereka sebagai manusia. Selain itu kemanusiaan kita di negeri yang katanya ber-bhineka ini.
Islam tidak Mengajarkan Kekerasan
Beberapa oknum yang ikut melakukan penolakan tersebut di antaranya ada yang memakai baju bertuliskan kelompok keagamaan tertentu. Mereka berdalih mengatasnamakan agama dalam melakukan kekerasan kepada kelompok lain.
Lalu agama mana yang mereka ikuti, karena Islam sendiri tidak pernah menyerukan kebencian apalagi melakukan kekerasan kepada orang lain, apapun alasannya. Bahkan Islam tetap mengajarkan cara yang baik untuk memperlakukan orang, yang bahkan tak beragama sekalipun.
Sebagai orang Islam yang menyaksikan kejadian tersebut, sungguh miris melihat oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam dalam mengecam peribadatan Muslim lainnya. Bahkan menebar narasi-narasi yang menyudutkan satu pihak. Tanpa membuka ruang diskusi satu sama lain agar mengerti dengan kepercayaan orang lain, sehingga tak hanya melahirkan prasangka-prasangka yang tak beralasan.
Terlepas dari berbagai pro kontra terhadap beberapa penafsiran-penafsiran Jemaat Ahmadiyah terhadap beberapa isu-isu tertentu. Sungguh kita mengecam kekerasan apapun dalam bentuk apapun, kepada siapapun.
Praktik Intoleransi masih Saja Terjadi
Sebagai warga Indonesia yang memang penuh dengan keberagaman, kejadian ini benar-benar membuat toleransi yang kita gadang-gadangkan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Bertambah lagi dengan absennya negara dalam kejadian ini, membuat kita semakin mempertanyakan demokrasi negara ini.
Pemerintah dan aparat seharusnya memberikan hak, keamanan, kebebasan serta perlindungan kepada setiap warganya, ternyata tidak hadir untuk memberikan keadilan tersebut. Nyatanya praktik intoleransi tak hanya datang dari masyarakat yang awam akan makna keberagaman. Melainkan juga dari negara yang masih gagal menunjukkan itu semua kepada setiap warganya.
Semoga kejadian ini menjadi PR kita bersama, bahwa praktik-praktik intoleransi tak bisa kita biarkan begitu saja. Mari kita bersama-sama mengambil peran untuk menjaga keberagaman ini, agar tetap ada, minimal satu hari sebelum dunia ini kiamat, meminjam istilah Buya Syafii Maarif.
source https://mubadalah.id/larangan-jalsah-salanah-jemaat-ahmadiyah-di-manakah-negara/
Categories: Ahmadis, Ahmadiyyat: True Islam, Asia, Indonesia, Jalsa Salana